Bartomeu Blak-blakan Soal Messi, Neymar & Keuangan Barca

Bagas Pratama

25 Maret 2026

Bartomeu Blak-blakan Soal Messi, Neymar & Keuangan Barca
Bartomeu blak-blakan! Ungkap fakta di balik krisis keuangan Barcelona, drama burofax Messi, hingga klaim atas skuad asuhan Hansi Flick saat ini.

Mantan Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu, lagi jadi sorotan.

Setelah lama diam, dia akhirnya buka-bukaan soal masa jabatannya yang penuh drama.

Topiknya berat, mulai dari krisis finansial klub sampai drama ‘burofax’ Lionel Messi yang bikin heboh.

Bartomeu memang sering jadi kambing hitam atas kondisi ekonomi Barca yang sekarang.

Bahkan, Presiden Joan Laporta berkali-kali bilang dia “menyelamatkan Barça” dari kekacauan warisan Bartomeu.

Lewat wawancara dengan El Matí de Catalunya Ràdio, Bartomeu membela diri.

Dia coba menjelaskan semua kontroversi yang menyelimuti kepemimpinannya.

Menurut Bartomeu, ada dua pemicu utama krisis keuangan Barca yang hampir bikin klub bangkrut.

Pertama, kepergian Neymar Jr. ke PSG di tahun 2017 yang jadi awal mula masalah.

PSG membayar klausul rilis Neymar sebesar 222 juta Euro (sekitar Rp3,77 triliun), dan hal itu bikin Barca kalang kabut.

“Gaji pemain langsung meroket setelah Neymar pergi,” jelas Bartomeu.

Ia menyebutkan bahwa klub-klub milik negara dan Liga Inggris punya kekuatan finansial yang sangat besar.

“Kami jadi kesulitan menahan pemain bintang agar tidak ikut cabut,” tambahnya.

Akibatnya, banyak kontrak pemain diperbarui dengan gaji dan klausul rilis yang lebih tinggi.

Tujuannya agar pemain kunci seperti Messi, Sergio Busquets, dan Jordi Alba tetap bertahan, dengan klausul rilis yang naik jadi 400-700 juta Euro (sekitar Rp6,8 triliun hingga Rp11,9 triliun).

Pemicu kedua adalah pandemi Covid-19, yang dianggap Bartomeu sebagai pukulan telak terakhir bagi keuangan klub.

“Warisan saya sepenuhnya dipengaruhi Covid-19,” jelas Bartomeu.

“Sebelum pandemi, Barca adalah klub yang berada di posisi olahraga dan finansial yang sehat, terus tumbuh dan menghasilkan pendapatan,” ungkapnya.

“Namun, pandemi menyebabkan pendapatan anjlok drastis,” tambahnya.

“Di musim 2019-20 dan 2020-21, Barca menderita kerugian hingga 500 juta Euro (sekitar Rp8,5 triliun), yang membuat keuangan klub benar-benar terpukul.”

Padahal, sebelum pandemi pun Bartomeu sudah ditekan buat mundur, dengan teriakan “Bartomeu dimisión!” sering terdengar di Camp Nou.

Kurang dari setahun setelah pandemi, Bartomeu akhirnya mengundurkan diri di tengah tekanan besar pada Oktober 2020.

Setahun sebelum Messi nangis-nangis pamit dari Barcelona di musim panas 2021, dia sempat mau cabut lewat burofax di Agustus 2020.

Keinginan Messi ini jadi noda besar di masa kepresidenan Bartomeu.

Bartomeu pun akhirnya membagikan versinya sendiri terkait insiden tersebut.

“Di Agustus 2020, saat Messi minta pergi, saya bilang tidak,” aku Bartomeu terus terang.

“Alasannya jelas, dia adalah aset terbesar kami dan salah satu sumber pendapatan utama klub,” tambahnya.

Bartomeu menegaskan dia tidak bisa memberinya surat pelepasan yang Messi minta untuk jadi agen bebas.

“Lagipula, dia masih terikat kontrak sah dengan klub,” tegasnya.

“Saya pikir dia mengerti situasi itu dan itulah mengapa dia tetap bertahan,” jelas Bartomeu.

“Dia mungkin berpikir akan ada dewan direksi baru dalam beberapa bulan yang akan memperbarui kontraknya,” lanjutnya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

“Kejutan datang saat waktunya perpanjangan kontrak, dan mereka justru ‘memecatnya’,” pungkas Bartomeu.

Pernyataan ini merujuk pada Laporta yang gagal memperpanjang kontrak Messi karena kondisi finansial klub yang sangat genting, sehingga mengakhiri era La Pulga di Barcelona.

Meski banyak fans Barcelona yang menganggapnya “supervillain,” Bartomeu tetap membela warisannya sebagai presiden.

Dia menekankan bahwa semua yang dia tinggalkan sangat terganggu parah oleh pandemi.

“Jadi presiden Barca itu tidak mudah,” ujarnya.

“Kami melakukan banyak hal selama masa jabatan kami yang sering luput dari perhatian,” ungkapnya.

“Ketika orang bicara soal warisan kami, mereka sering tidak menyebut aset fisik yang kami bangun,” kata Bartomeu.

“Kami berhasil membangun Estadi Johan Cruyff dan fasilitas akademi La Masía yang baru,” tambahnya.

Di lapangan, Barcelona memang meraih gelar Liga Champions di awal masa kepresidenan Bartomeu.

Mereka juga sukses menjuarai La Liga empat kali dan Copa del Rey empat kali selama periode tersebut.

Meski demikian, Bartomeu mengakui keputusan dewan direksi saat ini untuk menunjuk Hansi Flick sebagai manajer adalah keputusan yang sangat baik.

Dia juga mengklaim skuad Barca saat ini adalah bagian dari warisannya.

“Tim terbaik yang telah dibentuk dalam beberapa tahun terakhir adalah hasil dari penandatanganan Flick,” kata Bartomeu.

“Dan skuad yang ada sekarang juga merupakan bagian dari warisan kami,” tambahnya.

“Dari 23 pemain di skuad saat ini, 10 atau 11 di antaranya berasal dari masa jabatan kami,” klaimnya.

Sebagai contoh, Frenkie de Jong dan Pedri adalah rekrutan tim utama di era Bartomeu yang masih menjadi bagian penting dari skuad Barcelona hingga saat ini.

Tinggalkan komentar