Tottenham Hotspur Degradasi Kerugian Finansial Rp13 Triliun

Bagas Pratama

Maret 6, 2026

5
Min Read
Tottenham Hotspur Degradasi Kerugian Finansial Rp13 Triliun

Siapa sangka, klub sekelas Tottenham Hotspur yang punya sumber daya melimpah, kini berada di ujung tanduk Premier League? Dengan performa yang lagi anjlok parah, Spurs cuma berjarak satu poin dari zona degradasi. Bayangin aja, kalau sampai terdegradasi ke Championship, kerugian finansialnya bisa gila-gilaan, lho.

Dalam 14 pertandingan terakhir, Spurs cuma bisa mengumpulkan tujuh poin, ini jadi yang terendah di Premier League selama periode itu. Padahal, harusnya klub top enam terkaya di liga ini mustahil banget buat terdegradasi, mengingat sumber daya mereka yang melimpah. Tapi, dengan sisa 10 pertandingan dan performa yang bikin pusing, pertanyaan besar muncul: dari mana mereka bisa dapat poin cukup?

Walaupun Wolves dan Burnley hampir pasti mengisi dua posisi terbawah, dan klub lain seperti West Ham, Nottingham Forest, serta Leeds juga masih berisiko, Spurs memang bukan favorit buat turun kasta. Namun, kemungkinan itu tetap ada, dan jika skenario terburuk terjadi, dampaknya ke keuangan klub bakal sangat dahsyat. Menurut data dari laporan UEFA, pendapatan Spurs tahun lalu mencapai £690 juta (sekitar Rp13 triliun), menempatkan mereka di posisi kesembilan klub terkaya di Eropa. Nah, angka ini bisa anjlok parah kalau mereka sampai ke Championship.

Kerugian Fantastis yang Menanti

Analisis dari kami memprediksi, penurunan pendapatan Spurs secara keseluruhan bisa mencapai £261 juta, atau sekitar Rp5 triliun lebih. Angka ini jelas bukan main-main dan bakal jadi pukulan telak buat klub.

Salah satu area yang paling kena imbas adalah pendapatan tiket. Spurs berhasil meraup £130 juta dari tiket musim lalu, menjadikannya kelima tertinggi di Eropa. Saat ini, rata-rata harga tiket kandang Spurs adalah £76 per penggemar, cuma ada lima klub lain di Eropa yang lebih mahal.

Sejak membangun stadion baru senilai sekitar £1 miliar, Spurs memang fokus banget jualan tiket hospitality dan paket korporat biar pemasukan matchday maksimal.

Tapi, coba deh bayangin, mereka pasti nggak bisa pasang harga segitu buat pertandingan pembuka melawan tim kayak Lincoln City di divisi kedua. Penurunan jumlah penonton juga kemungkinan besar bakal terjadi, bikin pendapatan dari tiket anjlok drastis.

Pendapatan dari hak siar juga bakal terjun bebas. Spurs nggak akan lagi dapat bagian dari kesepakatan hak siar domestik dan internasional Premier League yang super menguntungkan.

Tahun lalu, pendapatan hak siar Ipswich Town bahkan lebih tinggi dari Barcelona, lho, itu saking gedenya duit dari Premier League. Apalagi, puluhan juta pound yang mereka dapat dari hak siar Liga Champions bakal langsung nol, kecuali mereka bisa juara turnamen itu, yang bakal menjamin tempat mereka di kompetisi tahun depan meski main di divisi kedua.

Pendapatan komersial Spurs yang tahun lalu mencetak rekor £269 juta (sekitar Rp5,2 triliun) juga bakal kena dampak signifikan. Kontrak sponsor seperti Nike (produsen jersey) dan AIA (sponsor di dada) yang nilainya gabungan sekitar £70 juta per tahun, bakal dipangkas habis-habisan karena adanya klausul degradasi.

Main empat pertandingan kandang lebih banyak di Championship juga bisa mengganggu jadwal Spurs buat ngadain acara atau konser menguntungkan lainnya, padahal ini salah satu fokus klub.

Kieran Maguire, seorang ahli keuangan sepak bola, bilang gini: “Buat klub dengan ambisi dan skala finansial Spurs, degradasi bukan cuma kemunduran olahraga jangka pendek. Ekonomi sepak bola Inggris bikin pemulihan jadi proyek multi-tahun.”

Biaya Operasional yang Sulit Dipangkas

Spurs mencatat kerugian £129 juta tahun lalu, dan risiko kerugian yang lebih besar lagi kalau terdegradasi itu jelas banget. Memang sih, di beberapa sisi, biaya operasional Spurs bakal berkurang kalau turun ke Championship. Misalnya, banyak laporan bilang kalau kontrak pemain mereka itu ada klausul pemotongan gaji 50% kalau klub terdegradasi. Kalau semua pemain kena klausul ini, tagihan gaji rekor £276 juta tahun lalu bisa jadi £138 juta saat musim baru dimulai.

Tapi, di sisi lain, banyak pengeluaran yang bakal tetap sama, bahkan mungkin naik. Salah satu masalah finansial utama klub-klub di Eropa beberapa tahun terakhir adalah naiknya biaya operasional, termasuk listrik, transportasi, asuransi, pemasaran, dan administrasi.

Tahun lalu, Spurs punya biaya operasional tertinggi ketiga di seluruh Eropa, mencapai £260 juta. Angka ini naik £27 juta dari tahun sebelumnya, dan bisa naik lagi kalau harga kebutuhan pokok kayak energi terus merangkak naik di ekonomi global.

Banyak biaya operasional harian ini nggak bakal otomatis berkurang cuma karena main di liga yang lebih rendah. Misalnya, biaya listrik buat nyalain stadion di malam pertandingan melawan Norwich City di Championship itu sama aja kayak buat pertandingan melawan Newcastle di Premier League.

Spurs juga punya 877 karyawan tetap tahun lalu, naik 57 orang dari tahun sebelumnya, menjadikan mereka dengan jumlah karyawan terbesar ke-12 di Eropa. Kecuali ada pemangkasan besar-besaran, Spurs harus terus membayar gaji standar klub top Eropa, padahal mereka nggak lagi main di liga teratas Inggris.

Perdebatan: Terlalu Hati-hati dengan Keuangan?

Selama ini, Spurs sering dipuji sebagai salah satu klub paling berkelanjutan secara finansial di Eropa. Tapi, di sisi lain, mereka juga sering dikritik fans karena nggak mau pakai lebih banyak pendapatan buat bayar gaji pemain yang lebih tinggi. Beberapa pihak percaya, bahaya finansial dari degradasi ke Championship ini sebagian gara-gara keengganan klub buat ambil risiko finansial di tahun-tahun belakangan.

Gareth Bale, mantan winger Spurs, pernah bilang di podcast The Overlap waktu ditanya kenapa klubnya terancam degradasi: “Menurutku sih, uang. Lihat aja tagihan gaji mereka, lebih rendah [dari klub-klub lain dengan ambisi besar].” Dia nambahin, “Mereka kayaknya selalu beli pemain muda dan berharap mereka bakal jadi bintang, yang dulu berhasil sama aku dan beberapa pemain lain. Tapi mereka kan udah klub mapan sekarang.”

“Mereka punya stadion, punya tempat latihan, punya basis penggemar. Mereka harusnya beli pemain yang lebih jadi, mungkin bayar sedikit lebih mahal. Itu semacam risiko yang mungkin perlu diambil, tapi dari sudut pandang bisnis, mereka nggak mau melakukannya,” kata Bale. “Buatku, itu mungkin masalah terbesar, mereka nggak merekrut pemain yang udah jadi.”

Bale juga menekankan, “Pemain £50 juta itu udah nggak kayak dulu. Kamu harus keluar £80 juta, £90 juta, £100 juta sekarang cuma buat dapat pemain bagus.” Dia menyimpulkan, “Mereka kayaknya cuma perlu sedikit lebih berani ambil risiko, klub-klub lain lebih mau ambil risiko finansial.”

Sebagai informasi tambahan, Spurs sendiri baru saja kalah di dua pertandingan pertama mereka di bawah pelatih baru Igor Tudor, dengan kebobolan enam gol dan cuma mencetak dua gol.

Tinggalkan komentar