Meskipun berhasil memimpin klasemen, Pedro Acosta jujur soal performa KTM di MotoGP Thailand. Ia ungkap motornya kalah telak di top speed dan time attack dibanding Ducati dan Aprilia. Simak analisis lengkap tantangan sang pembalap muda!
Pedro Acosta, pembalap muda berbakat dari tim KTM, sukses bikin geger di balapan pembuka musim MotoGP Thailand! Gimana enggak, dia langsung memimpin klasemen kejuaraan setelah tampil brilian dan bikin banyak orang terkesima. Tapi, di balik semua euforia kemenangan Sprint Race dan podium Grand Prix, Acosta juga jujur banget soal PR besar yang harus digarap KTM.
Ternyata, meskipun Acosta berhasil tampil memukau, ia melihat ada kelemahan mendasar pada motor KTM RC16-nya, terutama jika dibandingkan dengan rival tangguh seperti Ducati dan Aprilia. Dua area utama yang jadi sorotan adalah top speed di lintasan lurus dan performa time attack dalam satu putaran. Ini jelas jadi tantangan serius buat pabrikan asal Austria itu untuk bisa bersaing lebih konsisten ke depannya.
Acosta sendiri enggak sungkan mengungkapkan bahwa dirinya sangat kesulitan di beberapa sektor sirkuit Buriram karena perbedaan performa ini. Ia bahkan sampai harus memutar otak dan mengandalkan keahliannya di zona pengereman untuk bisa mengimbangi kecepatan lawan-lawan di depan. Jadi, meskipun klasemen memihak padanya, Acosta tahu betul apa yang harus dibenahi.
Ngomongin performa Acosta di Thailand, gila sih keren banget! Pembalap berjuluk ‘El Tiburón’ ini langsung ngegas dari awal. Dia berhasil meraih kemenangan Sprint Race pertamanya di MotoGP, lho. Kemenangan ini memang datang setelah Marc Marquez kena penalti turun posisi, tapi itu enggak mengurangi kilau penampilan Acosta yang memang sudah on fire.
Enggak cuma di Sprint Race, di balapan utama Grand Prix hari Minggu, Acosta juga tampil enggak kalah solid. Dia sukses finis di posisi kedua, bikin podium KTM jadi makin meriah. Hasil ini otomatis jadi kemenangan pertama buat KTM sejak musim 2023, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.
Lebih dari itu, berkat penampilan gemilang Acosta, tim pabrikan asal Austria ini berhasil memimpin klasemen MotoGP untuk pertama kalinya sepanjang sejarah mereka. Ini jelas jadi awal musim yang bikin bangga dan penuh harapan, meski Acosta sendiri sadar ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan.
Nah, di balik semua pencapaian itu, Acosta punya pandangan jujur tentang motornya. Ia bilang, “Yah, sepertinya tahun ini top speed kami tidak sebagus Ducati dan Aprilia.” Pernyataan ini jelas menunjukkan kekhawatiran Acosta, apalagi di sirkuit dengan lintasan lurus panjang seperti Buriram.
Acosta secara spesifik menyebutkan kalau dirinya sangat kesulitan di dua sektor pertama lintasan. Ini bukan tanpa alasan, karena di sektor-sektor tersebut, kekuatan top speed motor memang sangat diuji. Kalau kalah cepat, auto ketinggalan dari lawan-lawan di depan.
Data juga mendukung pernyataan Acosta, lho. Di akhir pekan MotoGP Thailand, kecepatan tertinggi dicatat oleh Jorge Martin dari Aprilia dengan 345,0 km/jam saat kualifikasi. Sementara itu, pembalap KTM tercepat adalah Enea Bastianini dengan 342,8 km/jam. Acosta sendiri mencatat 341,7 km/jam.
Bahkan di balapan utama hari Minggu, Marc Marquez memimpin catatan kecepatan dengan 339,6 km/jam. Sedangkan Acosta dan rekan setimnya di KTM, Brad Binder, sama-sama hanya mencapai 336,4 km/jam. Jelas terlihat kan, ada gap yang lumayan signifikan di sektor kecepatan puncak.
Meskipun kalah di lintasan lurus, Acosta ini memang jagoan strategi. Dia enggak menyerah begitu aja. Pembalap muda ini berhasil mengimbangi kekurangan top speed dengan keunggulannya di sektor terakhir, terutama di zona pengereman berat di tikungan terakhir.
Sektor ini jadi ‘kartu andalan’ Acosta buat melakukan overtaking. Dia bilang, “Memang benar bahwa sejak saya datang ke Thailand, bahkan di kategori lain, saya selalu memiliki T4 yang cepat dan itu satu-satunya tempat saya bisa melakukan overtaking.” Keren banget, kan, strateginya?
Acosta melanjutkan, “Karena kemudian ada titik pengereman terakhir ini, dan itu satu-satunya kartu andalan saya yang bisa saya gunakan. Untuk itu, saya hanya mencoba mempertahankan jarak dan kemudian mencoba menyerang di sana.” Ini menunjukkan betapa cerdiknya Acosta memanfaatkan kelebihan motor dan skill pribadinya.
Selain top speed, ada lagi nih PR buat KTM: performa dalam satu putaran atau ‘time attack’. Acosta merasa kalau ini juga jadi area yang harus ditingkatkan, apalagi dia cuma bisa meraih posisi keenam di kualifikasi Buriram.
Menurut Acosta, “Kita tetap harus terus bekerja karena kita juga bisa melihat bahwa Aprilia dan Ducati masih sangat cepat dalam sesi time attack.” Ini penting banget karena posisi start yang bagus bisa sangat menentukan jalannya balapan.
Dia mengakui kalau performa time attack KTM memang sudah lebih baik dibanding tahun lalu. “Memang benar kita tidak seburuk tahun lalu dalam sesi time attack, tetapi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh,” ujarnya. Jadi, meskipun ada peningkatan, targetnya tentu harus lebih tinggi lagi.
Dengan semua kelemahan yang diidentifikasi, Pedro Acosta tetap berhasil memimpin klasemen kejuaraan dengan keunggulan tujuh poin atas Marco Bezzecchi. Ini jadi modal berharga banget sebelum menuju putaran kedua di Brasil nanti.
Meskipun begitu, Acosta dan tim KTM jelas punya banyak pekerjaan rumah. Mereka harus segera menemukan solusi untuk masalah top speed dan time attack kalau mau bersaing ketat dengan Ducati dan Aprilia sepanjang musim. Perjalanan masih panjang, tapi semangat Acosta patut diacungi jempol!







Tinggalkan komentar