Antartika Meleleh: Kita akan Menghadapi Kiamat Nyata

Nabila Azzahra

Februari 23, 2026

4
Min Read
Antartika Meleleh: Kita akan Menghadapi Kiamat Nyata

Antartika, benua es yang selama ini jadi penyeimbang Bumi, kini menghadapi kiamat nyata. Es di sana meleleh dengan kecepatan yang bikin kaget, bahkan dua kali lipat lebih cepat dibanding tempat lain di dunia. Ini bukan cuma soal es yang mencair, tapi ancaman serius buat ekosistem, naiknya permukaan air laut, dan potensi krisis pangan global. Sebuah studi terbaru menegaskan bahwa pilihan hidup kita dalam satu dekade ke depan akan sangat menentukan nasib Antartika, dan tentunya, nasib Bumi secara keseluruhan.

Kenaikan suhu Bumi yang terus-menerus ini jelas banget disebabkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan emisi karbon. Dampaknya sudah terlihat nyata di Antartika, terutama di Semenanjung Antartika yang jadi bagian paling hangat di benua itu. Para ilmuwan dari Newcastle University, yang dipimpin oleh profesor glasiologi Bethan Davies, membuat pemodelan untuk memprediksi skenario terbaik dan terburuk di sana.

Untuk menghindari skenario paling buruk, dunia harus segera mengambil langkah drastis dan konkret. Tujuannya adalah mencapai emisi nol bersih (net-zero emission) secepat mungkin. Profesor Davies menjelaskan, “Tentu saja kita bisa melakukan ini. Artinya, kita harus berpikir logis tentang bagaimana mengoperasikan energi untuk negara kita, bagaimana memanaskan rumah kita, [membuat] keputusan dan kebijakan tentang bagaimana kita menjalani gaya hidup kita. Semua ini dapat dikelola dan dilakukan.”

Tim peneliti menganalisis data iklim CMIP6, serangkaian simulasi standar dari puluhan model iklim. Ini membantu mereka memprediksi respons sistem Bumi terhadap berbagai tingkat emisi gas rumah kaca. Ada tiga skenario yang dipertimbangkan: emisi rendah, emisi menengah-tinggi, dan emisi sangat tinggi.

Skenario emisi rendah adalah yang terbaik. Di sini, suhu global cuma naik 1,8 derajat Celcius di atas level pra-industri sampai tahun 2100. Kalau ini terjadi, Semenanjung Antartika bakal terhindar dari kerusakan lingkungan parah, dan konsekuensi globalnya juga nggak akan terlalu ngeri. Luas es laut di musim dingin hanya akan sedikit berkurang, dan kontribusi Semenanjung terhadap kenaikan permukaan laut cuma beberapa milimeter saja. Gletser dan lapisan es pendukungnya tetap aman.

Sayangnya, dunia saat ini bergerak ke skenario emisi menengah-tinggi. Dengan skenario ini, suhu global bisa naik 3,6 derajat Celcius di atas level pra-industri pada 2100. Artinya, Semenanjung Antartika akan 3,4 derajat Celcius lebih panas dari sekarang. Kita bisa melihat 19 hari di atas 0 derajat Celcius setiap tahun, curah hujan lebih banyak dari salju, dan penyusutan gletser yang makin cepat.

Cuaca ekstrem juga bakal lebih sering muncul, dan spesies asli seperti penguin Adélie bisa terusir karena iklim yang nggak ramah. Profesor Davies bilang, “Penguin Adélie adalah hewan kecil yang tangguh, tetapi ia tidak tahan jika anak-anaknya basah. Apa yang terjadi ketika hujan turun di Semenanjung Antartika adalah kita bisa kehilangan seluruh koloni perkembangbiakan. Kita bisa kehilangan semua anak penguin.”

Terakhir, ada skenario emisi sangat tinggi, di mana suhu rata-rata global naik 4,4 derajat Celcius pada 2100. Tim peneliti menyebut ini bakal jadi kehancuran total buat Semenanjung Antartika. Lapisan es bisa runtuh, es laut hilang dalam jumlah besar, cuaca ekstrem jadi lebih sering dan parah, serta spesies asli berkurang drastis. Kerusakan yang ditimbulkan ini bersifat permanen. Walaupun saat ini dunia belum menuju ke skenario paling buruk ini, ini menunjukkan apa yang bisa terjadi kalau kita gagal mengendalikan emisi di masa depan.

Bagi para peneliti seperti Davies yang sudah langsung riset di lapangan, dampak pemanasan global ini sudah sangat terlihat. Mereka menyaksikan lapisan es meleleh dan dipenuhi genangan air, badai hujan yang datang bahkan di musim dingin. Saking parahnya, beberapa lokasi penelitian jadi terlalu berbahaya untuk diakses.

Profesor Davies menyebut Semenanjung Antartika ini sebagai “burung kenari di tambang batu bara” karena di sinilah perubahan paling cepat terjadi dan jadi sinyal bahaya buat seluruh dunia. Kesimpulannya, kita masih punya waktu, tapi nggak banyak. Belum terlambat untuk mengubah arah, asalkan kita bertindak cepat mengurangi emisi karbon. Pilihan kita di dekade berikutnya akan sangat menentukan masa depan wilayah vital ini.

Tinggalkan komentar