Club Raksasa Eropa Terancam Degradasi: Musim Pahit 2025/26

Bagas Pratama

Februari 24, 2026

3
Min Read
Club Raksasa Eropa Terancam Degradasi

Siapa sangka, kompetisi sepak bola musim 2025/26 ini lagi bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Klub-klub raksasa Eropa yang biasanya langganan papan atas, bahkan sering main di kompetisi antarklub, sekarang malah terancam degradasi. Delapan tim besar di berbagai liga top Eropa lagi berjuang keras buat tetap bertahan di kasta tertinggi, padahal beberapa bulan lalu skenario ini rasanya mustahil banget.

Salah satu yang paling bikin heboh adalah Tottenham Hotspur. Setelah kalah dari Newcastle, mereka cuma berjarak lima poin dari zona degradasi. Padahal, Spurs ini kan tim yang sering banget di papan atas! Legenda mereka, Glenn Hoddle, sampai terang-terangan bilang kalau Spurs lagi dalam pertarungan degradasi. Katanya, baik pemain maupun suporter harus sadar betul situasinya dan siap berjuang mati-matian demi setiap poin. Statistik juga nunjukkin kalau sejak November, cuma Burnley dan Wolves yang perolehan poinnya lebih rendah dari Spurs. Duh, ngeri juga ya.

Baca:  Perebutan Mateus Mane: Liverpool Ikut Saingi Manchester United

Geser ke Spanyol, ada Valencia yang juga lagi dihantui bayang-bayang degradasi. Klub ini sudah jadi bagian La Liga sejak era 1980-an dan pernah jadi kekuatan besar Eropa di awal 2000-an. Musim lalu, mereka sempat lolos dari zona merah berkat sembilan laga tanpa kalah di akhir musim. Tapi, momentum itu nggak bisa dipertahankan. Sekarang, Los Che ada di peringkat ke-17 La Liga, cuma beda satu poin dari zona degradasi. Yang bikin makin deg-degan, tiga tim di bawah mereka masih punya sisa satu pertandingan lebih banyak.

Di Championship Inggris, Leicester City juga bikin kaget. Padahal, mereka sempat difavoritkan buat promosi ke Premier League lagi. Eh, sekarang malah terdampar di peringkat ke-21. Mereka cuma selamat dari tiga terbawah karena selisih gol yang tipis banget. Pemecatan manajer, pengurangan enam poin, ditambah kekalahan dramatis 3-4 dari Southampton, bener-bener jadi pukulan telak. Suporter sampai teriak-teriak saking kecewanya, menganggap para pemain tidak layak mengenakan seragam tim.

Baca:  Prediksi Liverpool vs West Ham Analisis Liga Primer 2025/2026

Nggak cuma itu, West Bromwich Albion di Championship juga lagi ketar-ketir. Mereka cuma beda dua poin dari zona degradasi setelah delapan pertandingan tanpa kemenangan. Padahal, terakhir kali mereka main di kasta ketiga itu awal 90-an.

Lalu ada Wigan Athletic di League One yang nasibnya lebih parah. Mereka di peringkat ke-22 dan tanpa kemenangan dalam delapan laga terakhir. Padahal, tahun 2013 mereka masih main di Premier League, lho! Pemecatan Ryan Lowe setelah kalah 1-6 dari Peterborough nunjukkin kalau mereka butuh banget pengganti yang tepat buat nyelametin musim ini, atau mereka bisa aja turun ke kasta keempat.

Di Bundesliga, Wolfsburg juga lagi di ujung tanduk. Klub yang nggak pernah absen sejak 1997 dan bahkan pernah juara di 2009 ini, sekarang cuma unggul dua poin dari zona degradasi dengan 13 pertandingan tersisa.

Baca:  Michael Carrick: Man Utd Tetap Bangga Jaga Kesetaraan dan Keberagaman

Serie A juga nggak kalah bikin kaget. Fiorentina, yang musim lalu finis keenam dan sampai semifinal Conference League, kini malah terdampar di posisi ke-18. Penjualan pemain kunci dan badai cedera bikin ancaman degradasi makin nyata.

Terakhir, ada Legia Warsawa, klub Polandia yang juga sempat mencapai perempat final Conference League musim lalu. Sekarang, performa mereka anjlok parah sampai terjerumus ke zona degradasi. Kekecewaan suporter sampai memuncak, dengan nyanyian agresif yang isinya ancaman kalau sampai tim mereka terdegradasi.

Banyak faktor yang bisa jadi penyebab keterpurukan klub-klub ini. Mulai dari salah urus keuangan, keputusan-keputusan keliru di balik layar, sampai cuma sekadar nasib apes di lapangan. Di kompetisi yang persaingannya makin ketat kayak sekarang, salah sedikit saja bisa fatal. Hukuman buat performa buruk itu datangnya tanpa kompromi, guys.

Tinggalkan komentar