Menjelang musim MotoGP 2026, Ducati di Borgo Panigale sedang pusing tujuh keliling memilih paket aerodinamika awal untuk motor GP26 mereka. Dari empat opsi yang ada, kini mengerucut jadi dua kandidat kuat setelah tes di Buriram. Pilihan ini krusial banget, karena sesuai aturan, pabrikan hanya boleh melakukan satu kali update desain aero sepanjang musim setelah paket pertama didaftarkan.
Keputusan soal aero ini bakal menentukan performa Ducati di paruh pertama tahun 2026. Makanya, mereka harus benar-benar matang dalam memilih antara paket Aero 2024 yang sudah teruji atau Hybrid-Mix yang lebih eksperimental. Pilihan ini akan secara resmi didaftarkan pada hari Kamis ini sebelum balapan pertama dimulai.
Secara teknis, motor GP26 ini disebut-sebut punya lompatan evolusi yang jauh lebih masif dibanding transisi GP24 ke GP25 tahun lalu. Meski regulasi baru 850cc untuk 2027 sudah di depan mata, Ducati tetap gas pol mengembangkan motornya. Ada beberapa poin krusial di GP26, seperti sasis baru yang diklaim memberikan feedback lebih baik. Lalu, ada juga perangkat pengatur ketinggian motor (lowering device) yang lebih canggih, kunci Ducati untuk start dan akselerasi keluar tikungan. Untuk mesinnya, mereka tetap pakai basis Power Unit 2025 yang sudah terbukti buas dan sangat matang.
Nah, balik lagi ke pilihan aero. Di tes Buriram, Ducati sempat punya paket aero full-spec 2026 yang dijuluki “Tank”, tapi ternyata masih terlalu radikal dan disisihkan dulu. Paket itu kemungkinan baru akan diuji lagi di tes Jerez bulan April nanti. Jadi, untuk seri perdana, opsinya tinggal dua:
Pertama, ada paket Aero 2024. Ini adalah paket yang dipakai Pecco Bagnaia dan Jorge Martin saat mereka mendominasi musim 2024. Karakteristiknya sangat stabil dan para pembalap sudah paham betul seluk-beluknya. Kelebihannya, paket ini fokus pada handling dan kelincahan motor saat transisi tikungan. Pembalap pabrikan menghabiskan paling banyak waktu dengan paket ini di Thailand, menjadikannya pilihan yang aman tapi tetap kompetitif.
Opsi kedua adalah paket Hybrid-Mix. Ini adalah eksperimen menarik dari Ducati, menggabungkan fairing depan spek 2025 dengan panel samping (side body) terbaru spek 2026. Karakteristiknya fokus pada efisiensi aerodinamis untuk mencapai top speed yang lebih tinggi. Kelebihannya, paket ini bisa mengurangi hambatan angin (drag) di lintasan lurus. Tapi, ada kelemahannya juga, yaitu sedikit mengorbankan kelincahan (handling) jika dibandingkan dengan spek 2024.
Perlu diingat, aero itu tidak bekerja sendirian. Ia harus sinkron juga dengan ban. Meskipun ban Michelin 2026 disebut sebagai “stok lama”, secara konstruksi carcass dan performa, ban ini sudah mengalami evolusi diam-diam sejak 2025. Ducati harus memastikan downforce yang dihasilkan tidak membuat ban depan bekerja terlalu keras. Kabar baiknya, Pecco Bagnaia bilang semua pembalap Ducati, termasuk Alex Marquez yang baru naik ke GP26, menuju ke arah yang sama. Alex Marquez bahkan mengonfirmasi kalau GP26 masih mempertahankan DNA dominan dari GP24, menurutnya “Motornya sangat mirip (GP24 dan GP26), dan itu adalah hal yang bagus.”
Melihat tren dan pemakaian saat latihan start terakhir di Buriram, kemungkinan besar mayoritas pembalap Ducati akan memilih paket Aero 2024 sebagai homologasi pertama. Kenapa? Karena Ducati butuh motor yang seimbang. Mengingat mesinnya sudah spek 2025 yang super kencang, mereka mungkin tidak terlalu bernafsu mengejar top speed murni dengan paket aero radikal. Sepertinya mereka lebih fokus mengejar stabilitas pengereman dan handling, area di mana kompetitor seperti KTM dan Aprilia mulai mendekat. Kita tunggu saja apakah “The Power of Red” masih akan sulit dibendung dengan kombinasi sasis baru dan aero yang dioptimalkan ini.






Tinggalkan komentar