Gaes, ada kabar kurang mengenakkan nih dari dunia sepak bola internasional! Laga Finalissima yang ditunggu-tunggu antara juara Euro, Spanyol, dan juara Copa América, Argentina, resmi dibatalkan. Pertandingan prestisius ini seharusnya digelar pada 27 Maret di Qatar, tapi semuanya buyar setelah rencana-rencana alternatif yang diajukan UEFA ditolak mentah-mentah oleh pihak Argentina.
Awalnya, Finalissima edisi terbaru ini memang sudah diragukan bisa terlaksana. Konflik yang sedang berlangsung di kawasan Iran menjadi penyebab utama keraguan tersebut, hingga akhirnya pertandingan ini resmi dibatalkan pada hari Minggu. Namun, cerita di balik pembatalan ini ternyata lebih kompleks, terutama karena penolakan dari kubu Argentina.
Jurnalis ternama, Ben Jacobs, melalui akun X-nya, berhasil membongkar alasan di balik kegagalan kesepakatan alternatif lokasi ini. Menurut Jacobs, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) sebenarnya sudah menunjukkan fleksibilitas dan terbuka terhadap semua proposal yang diajukan UEFA. Namun, Federasi Sepak Bola Argentina (AFA), sang pelatih Lionel Scaloni, dan bahkan bintang lapangan hijau, Lionel Messi, dilaporkan kompak menolak rencana-rencana tersebut.
UEFA sendiri sudah berusaha keras mencari solusi. Mereka mengajukan dua opsi menarik agar Finalissima tetap bisa terselenggara. Opsi pertama, UEFA mengusulkan pertandingan tunggal ini dipindahkan ke stadion legendaris Santiago Bernabeu di Spanyol. Dalam proposal ini, tiket akan dibagi rata 50:50 untuk suporter kedua tim. Sayangnya, Argentina dengan tegas menolak tawaran ini.
Enggak menyerah, UEFA meluncurkan opsi kedua yang lebih ambisius. Mereka mengusulkan Finalissima digelar dalam format dua leg. Leg pertama direncanakan tetap di Santiago Bernabeu pada 27 Maret, sementara leg kedua akan dimainkan di Buenos Aires, Argentina. Leg kedua ini dijadwalkan pada jendela internasional sebelum gelaran Euro dan Copa América 2028. Namun, lagi-lagi, proposal ini juga bernasib sama, ditolak oleh Argentina.
Jacobs dalam laporannya lebih lanjut mengungkap alasan spesifik di balik sikap keras Scaloni dan Messi. Ada dua alasan utama yang membuat Argentina bersikukuh menolak semua rencana alternatif yang diajukan UEFA.
Pertama, ada faktor trauma masa lalu yang masih membekas. Staf pelatih Argentina, termasuk Scaloni, masih sangat mengingat kekalahan telak 6-1 dari Spanyol sesaat sebelum Piala Dunia 2014. Mereka merasa kekalahan telak itu sempat mengganggu persiapan tim dan memengaruhi mental pemain di turnamen besar tersebut.
Karena pengalaman pahit itu, mereka sangat tidak ingin ada gangguan atau perubahan mendadak dari perencanaan awal mereka, apalagi menjelang persiapan penting untuk Piala Dunia 2026. Ide pertandingan dua leg tanpa tanggal pasti untuk leg kedua juga dianggap akan menambah ketidakpastian dan potensi gangguan pada jadwal tim.
Kedua, alasan finansial juga jadi penentu. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) bersikeras ingin mendapatkan bayaran penuh seperti yang sudah disepakati jika pertandingan tetap digelar di Qatar. Mereka mengabaikan fakta bahwa 80.000 tiket sudah terjual dan ada sejumlah besar uang sponsor yang terkait dengan lokasi awal tersebut.
Nah, masalahnya, jika pertandingan dipindahkan ke Bernabeu, pemasukan dari tiket dan sponsor yang sudah terikat di Qatar ini tidak akan bisa dibawa serta atau hangus. Ini berarti, baik Argentina maupun Spanyol, akan mendapatkan pemasukan yang jauh lebih kecil dari yang diharapkan.
Spanyol, di sisi lain, menunjukkan sikap yang sangat kooperatif. Mereka menyetujui kedua proposal yang diajukan UEFA dan bahkan siap untuk menerima pendapatan yang lebih rendah dari pertandingan tersebut demi menjaga kelangsungan Finalissima. Namun, perbedaan pandangan, terutama terkait tuntutan finansial dan kekhawatiran akan gangguan persiapan, membuat Argentina tetap pada pendiriannya.
Alhasil, Finalissima edisi kali ini harus batal total. Padahal, duel antara dua raksasa benua ini pasti bakal jadi tontonan yang epik banget. Sayang seribu sayang, ya!






Tinggalkan komentar