Kerugian Fantastik Finansial Liverpool Gagal Masuk Liga Champions

Bagas Pratama

Maret 6, 2026

4
Min Read
Kerugian Fantastik Finansial Liverpool Gagal Masuk Liga Champions

Liverpool lagi di ujung tanduk nih, gengs. Mereka terancam banget gak bisa masuk Liga Champions musim depan, dan ini bukan cuma soal gengsi, tapi juga dompet klub. Setelah kekalahan mengejutkan 2-1 dari Wolves, posisi mereka di klasemen langsung bikin deg-degan.

Kapten Liverpool, Virgil van Dijk, gak bisa nutupin kalau taruhannya “sangat tinggi” setelah kekalahan di Molineux. Awalnya Liverpool ada di posisi kelima yang sebenarnya cukup aman, tapi kemenangan Chelsea atas Aston Villa bikin mereka melorot ke posisi keenam karena selisih gol. Pokoknya, situasi ini bikin semua fans Liverpool senam jantung.

Van Dijk sendiri menegaskan, “Entah kita mendapatkannya dan kita layak, atau kita tidak mendapatkannya dan kita tidak layak.” Baginya, main buat Liverpool itu memang selalu begini, penuh tekanan. Ia percaya, semua kembali ke tim dan para fans untuk bisa meraih hasil yang dibutuhkan demi lolos ke Liga Champions.

Di balik drama lapangan hijau, ada angka-angka fantastis yang jadi taruhan. Menurut pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, kalau Liverpool sampai gagal lolos Liga Champions, kerugiannya bisa mencapai £120 juta atau sekitar Rp2,4 triliun! Angka ini tentu bukan kaleng-kaleng.

Maguire menjelaskan, kerugian ini bukan cuma dari hadiah uang UEFA saja. Tapi juga akan berdampak pada pendapatan hari pertandingan alias tiket, pendapatan hak siar televisi, dan juga pendapatan komersial dari sponsor. Intinya, semua lini keuangan klub bisa kena imbas. Mengejutkan juga untuk Tottenham Hotspur Degradasi Kerugian Finansial Rp13 Triliun.

Coba kita bandingin hadiah uangnya. Laporan keuangan UEFA menunjukkan, tim yang lolos ke babak 16 besar Liga Champions di musim 2024-2025 bisa dapat sekitar 98,1 juta euro (£85,3 juta atau sekitar Rp1,7 triliun). Ini jelas angka yang bikin ngiler.

Nah, kalau di Liga Europa, ceritanya beda jauh. Saat Liverpool main di Liga Europa musim 2023-2024 dan sampai perempat final, mereka cuma dapat 26,8 juta euro (£23,3 juta atau sekitar Rp466 miliar). Jauh banget kan bedanya?

Bahkan, kalaupun juara Liga Europa, gap dananya tetap besar. Tottenham yang juara Liga Europa musim lalu cuma dapat 41,4 juta euro (£36 juta atau sekitar Rp720 miliar). Sementara Chelsea di Liga Konferensi cuma dapat 21,8 juta euro (£20 juta atau sekitar Rp400 miliar).

Maguire menambahkan, hilangnya pendapatan dari UEFA itu cuma sebagian kecil dari cerita. “Ini juga berdampak pada pendapatan hari pertandingan,” katanya. “Lalu, ada efek pada uang hak siar.”

“Ini berarti pendapatan komersial akan lebih rendah, karena ada bonus yang tertanam dalam kontrak dengan sponsor-sponsor utama,” lanjut Maguire. Jadi, kalau gak main di kompetisi top, bonus-bonus itu otomatis gak cair. Makanya, total kerugian bisa tembus £120 juta.

Musim panas lalu, Liverpool memang jor-joran banget belanja pemain. Mereka ngabisin lebih dari £400 juta (sekitar Rp8 triliun) buat datengin pemain-pemain kayak Florian Wirtz dan Alexander Isak. Itu adalah pengeluaran terbesar klub dalam satu bursa transfer.

Tapi, Maguire bilang kalau Liverpool itu “dikelola dengan sangat baik.” Jadi, menurutnya, satu musim di luar Liga Champions mungkin gak akan punya efek yang terlalu besar. Ini kabar baik di tengah ketidakpastian.

Buktinya, minggu lalu Liverpool baru aja ngumumin pendapatan rekor sebesar £703 juta (sekitar Rp14,06 triliun) untuk tahun keuangan terbaru mereka sampai Mei 2025. Klub ini bahkan mencetak keuntungan sebesar £8 juta (sekitar Rp160 miliar).

Maguire juga menekankan, kalau dilihat dari pengeluaran bersih transfer selama lima tahun terakhir, Liverpool cuma ada di posisi kedelapan. “Meskipun mereka memang punya pengeluaran transfer yang signifikan, Anda harus melihat pengeluaran mereka dalam jangka panjang,” jelasnya.

“Angka ini masih jauh di bawah dua klub Manchester dan terutama Chelsea,” tambahnya. Jadi, secara finansial, Liverpool terbilang lebih sehat dan gak terlalu boros dibanding rival-rivalnya.

Lantas, apakah Liverpool bakal punya masalah dengan aturan keuangan yang ketat? Maguire dengan tegas menjawab, “Jawaban sederhananya adalah tidak.” Ia memuji analisis keuangan Liverpool yang “sangat teliti.”

Ini beda banget sama Chelsea yang mencatat kerugian pra-pajak sebesar £355 juta (sekitar Rp7,1 triliun) untuk 2024-2025. Atau Manchester United yang keuangannya membaik, tapi utang klub sekarang mendekati £1,3 miliar (sekitar Rp26 triliun).

Tentu saja, absen di Liga Champions juga bisa berpengaruh pada daya tarik Liverpool di mata pemain. Pemain bintang biasanya pengen main di kompetisi paling bergengsi Eropa. Jadi, ini bisa jadi tantangan besar dalam merekrut talenta baru.

Bagi Van Dijk dan seluruh skuad Liverpool, berada di kompetisi teratas akan selalu menjadi hal yang vital, terlepas dari uang. Ini soal ambisi, gengsi, dan pembuktian diri di panggung sepak bola Eropa.

Jadi, meskipun Liverpool punya fondasi keuangan yang kuat dan manajemen yang jempolan, taruhan untuk Liga Champions musim depan ini tetap gede banget. Bukan cuma soal angka di rekening, tapi juga soal masa depan klub dan ambisi mereka di kancah sepak bola dunia.

Tinggalkan komentar