Marc Marquez, juara bertahan MotoGP, secara terang-terangan mengakui bahwa ia “tidak mengendarai Ducati 2026 secara alami” setelah sesi latihan Grand Prix Thailand. Walaupun di hari pertama di Buriram ia finis kedua, Marquez tertinggal cukup jauh dari pembalap tercepat, Marco Bezzecchi. Kondisi ini diperparah dengan cedera bahu kanan yang dialaminya Oktober lalu, yang memaksanya memakai aerodinamika Ducati spesifikasi 2024 dan membuat ia harus terus beradaptasi dengan gaya balapnya.
Meski berhasil mengamankan posisi kedua di akhir sesi Practice, Marc Marquez ternyata masih merasa belum maksimal dan belum menemukan ritme terbaiknya. Ia tertinggal lebih dari empat persepuluh detik dari Marco Bezzecchi dari Aprilia, yang memang tampil sangat cepat dan jadi pembalap tercepat di dua sesi latihan hari Jumat itu. Marquez sendiri ngaku kalau dia masih harus banyak berbenah dan menyesuaikan diri. “Aku perlu meningkatkan diri,” katanya. “Aku perlu terus memperbaiki gaya berkendara.
Tapi, aku belum berkendara secara otomatis.” Ia juga menambahkan, “Saat ini, sepertinya Aprilia dan Marco berkendara sangat cepat di sini. Entah kenapa, mereka mampu membuat berbagai jenis ban yang kami miliki di sini dan juga Mandalika bekerja dengan baik.” Ini menunjukkan kalau Marquez memang belum sepenuhnya nyaman di atas motornya dan masih mencari setelan yang pas.
Bukan tanpa alasan Marquez merasa kesulitan. Sebelumnya, pada hari Kamis, ia sudah mengakui kalau harus memulai musim ini dengan aerodinamika Ducati spesifikasi 2024. Ini karena ada batasan fisik akibat cedera bahu kanannya yang lumayan parah. Cedera itu didapatnya Oktober lalu di Grand Prix Indonesia dan sampai sekarang masih mempengaruhi performanya. Jadi, selain adaptasi motor baru, ia juga harus berjuang melawan kondisi fisiknya sendiri.
Sesi Practice kemarin juga lumayan bikin deg-degan buat Marquez. Ada momen ia nyaris nggak masuk 10 besar yang berarti nggak lolos otomatis ke Q2. Apalagi, hujan terus-menerus mengancam, yang bisa bikin kondisi lintasan makin sulit ditebak. Untungnya, pembalap Spanyol itu akhirnya bisa masuk 10 besar. Ia merasa beruntung banget karena nggak bernasib kayak rekan setimnya, Francesco Bagnaia, yang cuma bisa finis di posisi ke-15.
Marquez juga cerita kalau ia sempat ambil risiko besar di awal sesi latihan dengan memilih ban belakang Medium, padahal kondisi lintasan bisa berubah kapan saja. “Ya, sesi Practice tadi cukup sulit, terutama di bagian akhir, karena di satu momen aku hampir keluar dari Q2 karena aku memulai sesi latihan dengan ban [belakang] Medium; kami mengambil sedikit risiko di sana,” jelasnya. Timnya sempat ngirim pesan buat dia masuk pit dan ganti ban lunak, tapi udah telat karena dia udah di titik pengereman Tikungan 12.
Saat itu, ia sadar kalau posisinya di luar 10 besar dan harus segera bertindak. Beruntung, ia bisa cepat-cepat berhenti dan ganti ban untuk melakukan serangan terakhir. Ia juga merasa sangat beruntung karena cuma ada gerimis kecil, tidak seperti balapan Moto2 sebelumnya di mana hujannya lebih deras dan membuat kondisi lebih parah.
Marquez secara jujur mengakui kalau saat ini, Marco Bezzecchi memang selangkah lebih maju dari pembalap lain, menunjukkan dominasi yang cukup jelas. “Tapi memang benar bahwa saat ini, kita perlu terus bekerja karena Marco Bezzecchi selangkah lebih maju dari semua orang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bagaimana Aprilia, tim Bezzecchi, tampaknya punya keunggulan dalam membuat berbagai jenis ban bekerja optimal, baik di sirkuit Buriram ini maupun di Mandalika sebelumnya. Ini jadi PR besar buat Marquez dan timnya untuk bisa mengejar ketertinggalan, menemukan setelan terbaik, dan memahami bagaimana ban bisa bekerja maksimal di motor mereka.






Tinggalkan komentar