Toprak Razgatlioglu, pembalap rookie Pramac Yamaha, punya kesempatan terakhir di tes Buriram (21-22 Februari) untuk memantapkan diri sebelum debut MotoGP. Setelah performa yang kurang memuaskan di tes Sepang, Toprak berencana kembali ke set-up motor lama dan mencoba gaya balap ala Valencia demi hasil yang lebih baik.
Sebelumnya, Toprak sempat tampil menjanjikan di tes shakedown Sepang. Namun, pada tes resmi berikutnya, performanya justru stagnan dan membuatnya frustrasi. Ia hanya bisa menempati posisi ke-20 dalam daftar waktu gabungan, hasil yang belum pernah dialaminya saat masih balapan di Superbike. Toprak sendiri mengakui kalau tes di Sepang itu “agak membosankan dan juga membuat saya cukup kelelahan.” Ia merasa beberapa hari terakhir di Sepang tidak ada peningkatan sama sekali.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Toprak adalah masalah ergonomi. Dengan tinggi 185 cm, ia menjadi pembalap MotoGP paling jangkung di grid saat ini. Hal ini bikin Toprak harus mencari posisi duduk dan setang yang pas. Setelah diskusi dengan tim, ia memutuskan untuk kembali ke set-up lamanya, yaitu setang yang lebih rendah dikombinasikan dengan jok yang juga lebih rendah. Ia berharap kombinasi ini bisa membantunya beradaptasi dan memahami motor lebih baik, apalagi dengan mencoba gaya balap seperti di Valencia.
Selain ergonomi, Toprak juga harus melakukan perubahan besar pada gaya balapnya. Selama di Superbike, ia terkenal dengan gaya ‘stop and go’ yang kuat saat pengereman. Gaya ini berhasil membawanya meraih tiga gelar juara dunia WSBK. Namun, di MotoGP, gaya tersebut tidak cocok. Ia harus beralih ke gaya balap yang lebih mengalir dengan kecepatan menikung (cornering speed) yang lebih tinggi, dan ini jelas bertentangan dengan gaya balap alaminya.
Toprak mengakui bahwa mengubah gaya balap itu bukan hal yang mudah. Timnya sering menyarankan untuk mengerem lebih awal dan fokus pada kecepatan di tengah serta keluar tikungan. “Itu mudah dikatakan, tetapi bagi saya mengubah gaya balap sangat tidak mudah,” ujarnya. Namun, ia tidak menyerah dan terbuka untuk belajar, karena ia tahu perubahan ini sangat penting. Tapi, tentu saja, butuh waktu.
Di sisi lain, sirkuit Chang Buriram sendiri bukan trek yang ideal untuk Yamaha. Sirkuit ini punya lintasan lurus yang panjang, yang biasanya menguntungkan motor dengan tenaga mesin besar. Sementara itu, tenaga Yamaha M1 V4 yang baru masih dianggap kurang kuat. Di Sepang saja, kecepatan puncak mereka kalah sekitar 10 km/jam dibanding rival. Meski begitu, Toprak mendapat dukungan penuh dari Yamaha dan tim Pramac. Ia sadar waktu semakin menipis dan tes Buriram ini adalah dua hari terakhir sebelum musim dimulai. Fokusnya kini adalah mencari solusi dan meningkatkan performa, terutama untuk race pace.






Tinggalkan komentar