Musim MotoGP 2026 ini kayaknya bakal jadi tantangan berat buat Yamaha, apalagi setelah Grand Prix Thailand yang bikin mereka makin pusing. Pabrikan asal Jepang ini sampai membatalkan sesi media para pembalapnya, sebuah sinyal yang kurang oke. Padahal, Yamaha udah ganti layout mesin dari Inline4 ke V4 buat musim ini, berharap bisa kembali berjaya di kelas utama. Tapi, kenyataannya malah jauh panggang dari api.
Sekarang, si YZR-M1 V4 itu masih jauh dari kata memuaskan. Di lintasan, motor ini jadi yang paling lambat di speed trap, kurang banget gripnya pas balapan, dan nggak selincah versi sebelumnya. Fabio Quartararo, yang jadi andalan Yamaha, cuma bisa finis di posisi ke-16. Jangankan buat rebut pole position kayak tahun lalu, di sesi kualifikasi pertama (Q1) aja, dia udah ketinggalan 0,9 detik dari waktu tercepat.
Pas balapan hari Minggu di Thailand, Quartararo jadi pembalap Yamaha tercepat, tapi cuma di urutan ke-14. Dia ketinggalan sampai 30,823 detik dari Marco Bezzecchi yang pakai Aprilia dan berhasil jadi juara. Kalau dilihat dari kecepatan rata-rata, Bezzecchi bisa mencatatkan waktu 1 menit 31,390 detik, bahkan di putaran-putaran akhir masih stabil di 1 menit 33 atau 1 menit 34 detik. Nah, Quartararo? Dia cuma bisa rata-rata 1 menit 32,468 detik, lebih lambat lebih dari satu detik di sirkuit yang termasuk pendek ini.
Setelah balapan yang kurang memuaskan itu, Yamaha bikin keputusan yang jarang terjadi: mereka nggak menghadirkan pembalapnya buat sesi debrief dengan media. Biasanya sih, ini bisa aja terjadi di balapan luar negeri (flyaway) karena jadwal penerbangan yang padat. Tapi, kali ini beda. Yamaha sengaja menjauhkan para pembalap dari mikrofon dan malah menggantinya dengan manajemen senior. Ini jelas bukan pertanda baik.
Managing Director Monster Yamaha, Paolo Pavesio, akhirnya yang maju ngomong ke media. Dia bilang, “Saat ini, saya rasa tepat bagi saya untuk menjelaskan posisi kami.” Pavesio mengakui kalau ada perbedaan besar yang memisahkan mereka dari yang tercepat dan tantangannya gede banget. “Ini tidak akan terjadi dalam semalam, tidak ada keajaiban. Setiap kali kami turun ke lintasan, kami menemukan hal-hal baru,” tambahnya.
Proyek V4 Yamaha ini emang udah bermasalah dari awal. Pas tes di Sepang, mereka sampai kehilangan satu hari tes gara-gara drama mekanis. Itu udah jadi sinyal awal betapa susahnya mereka dengan proyek V4 yang masih baru ini. Di tes Buriram pun, emosi Quartararo sempat meledak. Alex Rins juga kedengaran nggak senang setelah hari terakhir tes karena salah satu motornya malah dikasih ke Quartararo. Ini nunjukkin kalau ada ketegangan di balik layar tim.
Komentar para pembalap selama Grand Prix Thailand juga nggak bikin hati tenang. Quartararo sempat bilang kalau dia nggak berharap mesin baru sampai bulan Mei, dan dia merasa belum ada arah pengembangan yang jelas. Hasil balapan di Buriram juga miris: Yamaha finis di posisi ke-14, ke-15, ke-17, dan ke-18. Ini jadi awal musim terburuk mereka di era modern.
Kalau dengerin pernyataan Pavesio tadi, kayaknya Yamaha udah siap-siap kalau performa kompetitif mereka bakal gini-gini aja untuk sementara waktu. Ini juga bisa jadi petunjuk kalau mereka mungkin bakal kehilangan Quartararo, yang kabarnya bakal pindah ke Honda. Walaupun begitu, Yamaha lumayan beruntung karena punya opsi pengganti yang solid kayak Jorge Martin dan Luca Marini. Kejadian Yamaha yang “memboikot” media di Buriram ini ngingetin kita sama insiden memalukan di Austria tahun 2017.
Waktu itu, manajemen senior sampai minta maaf secara terbuka ke media, padahal Valentino Rossi dan Maverick Vinales udah nunggu buat jawab pertanyaan. Butuh lima musim buat Yamaha buat kembali jadi juara setelah kejadian itu. Melihat situasi setelah Grand Prix Thailand 2026 ini, kayaknya bakal susah banget buat mereka untuk mendekati tujuan itu lagi.






Tinggalkan komentar